Resensi 2


Identitas buku
Judul                           : Sejarah Pendidikan
Nama Pengarang         : Drs. Leo Agung S., M.Pd. dan Drs. T. Suparman, M.Pd
Penerbit                       : Ombak (Anggota IKAPI)
Tahun Terbit                : 2012
Ukuran Buku              : 14,5 x 21 cm
ISBN                           : 978-602-7544-15-4

Sinopsis Buku Sejarah Pendidikan
Pendidikan pada masa zaman Indonesia Hindu masih ditujukan pada golongan yang berkasta, berhubung sebagai kewajibannya untuk penyuluh rakyat dan penghubung dewata dan rakyat. Abad ke-5 kerajaan Tarumanegara ada pelajaran membaca dan menulis, dibuktikan dengan adanya batu bertukis di dekat Bogor. Namun saat itu belum jelas cara belajar dan siapa gurunya. Abad ke-6 di Sumatera kerajaan Sriwijaya (Palembang dan sekitarnya), lama-lama menjadi pusat agama Buddha. Terdapat batu bertulis yang ditulis dengan huruf pallawa dala, bahasa Melayu tua bercampur perkataan-perkataan Sansekerta, isinya kutukan kepada siapa yang berani menyanggah kekuasaan Sriwijaya. Saat itu pendidikan ada karena untuk mendidik pegawai-pegawai yang diperlukan untuk menjalankan perdagangan. Terdapat Dubu, kola tempat menuntut ilmu yang praktis untuk belajar. Balaputra (850), mendirikan asrama untuk pemuda Sumatera di universitas Nalanda. Universitas ini mempunyai pelajar-pelajar terkenal dari Tiongkok, Jepang dll.
Abad ke-9 batu bertulis peinggalan Raja Mataram yang berisi penanaman lingga sebagai lambang  kekuasaan Mahadewa Siwa dan Raja. Saat Majapahit mencapai kejayaan  sesudah timbul sintesa agama Buddha Siwa dan Wisnu. Dengan demikian pendidikan dan filsafat pada zaman itu didukumg oleh perasaan agama yang dalam yang berurat berakar pada rakyat.
Dr. Vloemans mengatakan bahwa pendidikan itu berarti pemberian dan pengertian dan contoh-contoh. Jadi teranglah bahwa pada abaf ke-5 kita telah mengenal pendidikan.
Abad ke-7 dalam perkembangannya di Palembang berdiri “Perguruan Tinggi Agama Buddha”. Mahaguru yang terkenal  ialah Dharmapala yang pernah memberi pengajaran di Nalanda. Pada abad 7 Dharmapala datang di Sumatra dan memberi pelajaran agama Buddha Mahayana. Abad ke 8 terutama di Mataram Kuno didapatkan bahan-bahan yang lebih memberi pengertian tentang pendidikan dan pengajaran. Khusus kerajaan Majapahit yang runtuh pada abad 15, tetapi ilmu penegetahuaannya tetap berkembang khususnya bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintah, tata negara dan hukum. Beberapa karya intelektual yang lahir antara lain : Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri), Bharata Yudha karya Mpu Sedah (Kediri), Hariwangsa karya Mpu Panuluh (Kediri), Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh, Smaradhahana karya Mpu Dharmaja (Kediri), Negara Kertagama karya Mpu Prapanca (Majapahit), Arjunawijaya karya Mpu Tantular (Majapahit), Sotasoma karya Mpu Tantular(Majapahit). Di dalam kitab Sotasoma terdapat ungkapan “Bhineka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrawa” yang menjadi motto lambang negara.
Pada permulaaan abad 16  dan mungkin abad 13 banyak masyarakat yang dahulu memeluk agama Hindu telah memeluk agama islam. Pada abad ke-16 datanglah bangsa Barat. Saat Belanda mulai mendirikan sekolah yang berdasarkan Barat. Pada 1882 Belanda membentuk “Pristerranden) yang mendapat tugas  mengawasi pelajaran agama di pesantren.
Pendidikan dan pengajaran masa Mataran Islam timbul ahli pikir yang membentangkan pendapatnya tentang pendidikan. Dalam buku Tritama, Mangkunegaran IV menyatakan dengan tegas bahwa para pemuda harus meniru atau melaksanakan kehidupan yang berjiwa pahlawan. Pada buku Wirawiyata ditanamkan di dalam sanubari para pemuda benih-benih keprajuritan . disiplin dan keutamaan budi.
Pendidikan dan pengajaran abas ke-19 timbul sistem pendidikan dan pengajaran secara Barat VOC yang datang ke Tanah air kita ialah berdagang, jadi mencari keuntungan, tentunya tidak menaruh perhatian terhadap pendidikan dan pengajaran. Pendidikan dan pengajaran Indodnesia yang dibawa oleh Pemerintah Belanda  untuk anak-anak sesudah  1848 tujuan pendidikan dan pengajaran pada waktu itu hanya  dirahkan kepada pendidikan pegawai.
Pada 20 Mei 1908 didirikan perkumpulan di dalam STOVIA dengan nama “Budi Utomo”. Tokoh-tokoh pendidik Indonesia abad ke-20 diantaranya KI Hajar Dewantara, yang mendirikan Taman Siswa yang dasarnya kemerdekaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebudayaan, kodrat alam. Yang salah satu semboyannya digunakan sebagai lamabang Departemen Pendidikan Nasional saat ini yaitu “Tut Wuri Handayani”.
Pada abad ke-20 muncul tokoh John Dewey yang memberikan andil besar dalam model pembelajaran dewasa ini yaitu Cooperative Learning. Filsafat yang mendasari adalah “homi homini socious”, yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Kelebihan buku ini adalah covernya walaupun simple namun menarik. Bahasa yang digunakan tidak banyak menggunakan bahasa ilmiah jadi dapat mudah dipahami.

 Kelemahan buku ini adalah banyak kata yang salah cetak.
Dengan membaca buku ini kita dapat mengetahui perkembangan pendidikan di Indonesia. Jadi jika kita membaca buku ini kita, akan betambah pengetahuan tentang sejarah pendidikan di Indonesia.

Komentar